Profesional

Haruskah Kita Sopan Saat Bicara sama AI?

TopCareer.idChatbot AI saat ini kerap jadi “teman” atau “asisten” kita dalam membantu mengerjakan tugas sehari-hari, bahkan tak sedikit yang merasa teknologi ini sudah seperti rekan kerja.

Namun, beberapa orang bertanya-tanya: apakah kita juga harus bersikap sopan saat berbicara dengan AI?

Menurut sebuah penelitian di Amerika Serikat (AS), 67 persen pengguna AI mengaku bersikap sopan saat memakai chatbot.

Bahkan menurut CEO OpenAI Sam Altman, perusahaannya menghabiskan puluhan juta dolar untuk daya komputasi hanya untuk memproses ucapan seperti “tolong” dan “terima kasih” dari para pengguna.

Soal apakah kita harus bersikap sopan saat memakai AI, tidak ada jawaban yang benar-benar pasti. Semua kembali pada dirimu, dengan melihat tujuan yang ingin dicapai dari percakapan tersebut

“Orang yang memang terbiasa mengatakan ‘tolong’ dan ‘terima kasih’ akan membawa kebiasaan sopan itu ke dalam percakapan dengan AI,” kata Evangelia Leclaire, pengajar soal penggunaan AI untuk pengembangan karier.

“Naluri untuk memanusiakan interaksi itu justru hal yang baik. Itu mencerminkan kecerdasan emosional, kesadaran diri, dan rasa hormat terhadap proses interaksi itu sendiri,” imbuhnya, mengutip Indeed.

Baca Juga: Brand Mulai Pakai AI, Peran Customer Service Manusia Masih Penting

Christopher Flathmann, Assistant Professor dan Co-Director Clemson University’s Center for Human-AI Interaction, Collaboration and Teaming, mengatakan, penggunaan bahasa yang positif “sangat baik untuk membangun hubungan yang lebih kolaboratif antara manusia dan AI.”

Artinya, model AI mungkin akan memperhatikan cara kita berkomunikasi dengannya.

Meski Flathmann menyebut dia tak bisa memastikan bagaimana model bahasa besar (large language model/LLM) akan merespon, banyak di antaranya cenderung lebih menyukai bahasa yang positif atau sopan dalam prompt atau balasan.

Ini karena “model tersebut sampai batas tertentu dilatih untuk menyesuaikan diri dengan kondisi atau gaya pengguna yang berinteraksi dengannya.”

Flathmann menambahkan, banyak orang yang tak hanya bersikap ramah pada AI, namun juga berharap mereka membalas dengan cara yang sama.

“Penelitian kami menunjukkan bahwa AI yang mengabaikan norma percakapan di lingkungan bisnis, seperti giliran berbicara atau menggunakan bahasa yang sopan, sering kali dianggap memiliki kinerja dan tingkat kepercayaan yang lebih rendah, meskipun sebenarnya kemampuan menyelesaikan tugasnya sama,” ujarnya.

Baca Juga: Rentan ‘Halu’, Ini Tips Jaga Diri saat Bicara dengan Chatbot AI

Meski mengucapkan “tolong” atau “terima kasih” pada AI terdengar bukan hal yang buruk, namun tetap ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan, termasuk potensi dampak lingkungan hingga berkurangnya efisiensi.

Produktivitas merupakan salah satu alasan utama orang mengadopsi AI di tempat kerja. Berbasa-basi perlu sedikit waktu lebih lama dibandingkan memberikan perintah yang singkat dan langsung.

Jika tujuanmu menggunakan AI adalah meningkatkan produktivitas dan kecepatan kerja, menghilangkan basa-basi dapat membuat alur kerja menjadi lebih efisien.

Pertimbangkan ini saat komunikasi dengan AI

Flathmann pun mengatakan, ada dua hal yang mungkin perlu kamu pertimbangkan saat mencari tahu cara berinteraksi dengan AI di tempat kerja.

Pertama, apa ekspektasi tim Anda?

“Ini bukan hanya soal bersikap sopan, tetapi lebih kepada mengikuti norma dan kebiasaan tim tempat Anda bekerja,” ujarnya. “Tidak ada satu cara berkomunikasi yang benar secara universal.”

Dengan kata lain, jika budaya kerja di perusahaan sangat menghargai etika dan kesopanan, tidak ada salahnya mempertahankan kebiasaan tersebut, meskipun hanya dengan mengetikkan kata “tolong” kepada chatbot.

Kedua, apa tujuan dari interaksi tersebut?

“Bahasa yang lebih kolaboratif akan mendorong norma yang lebih kolaboratif, yang pada akhirnya menciptakan pola pikir dan suasana kerja yang lebih kolaboratif,” kata Flathmann. “Jika itu yang Anda inginkan, maka menggunakan bahasa yang sopan adalah cara yang baik.”

Baca Juga: Tak Cuma Cari Informasi, AI Juga Jadi Teman Curhat Saat Liburan

Namun, ada juga situasi yang memang perlu komunikasi cepat dan langsung. Misalnya saat memakai AI dalam situasi berisiko tinggi, seperti operasi pencarian dan penyelamatan.

“Dalam konteks seperti ini, tim lebih mengutamakan komunikasi yang cepat dan mudah dipahami. Karena itu, AI yang merespons secara langsung lebih ideal, meskipun bahasanya mungkin tidak terlalu sopan atau terasa seperti percakapan,” ujarnya.

Selain itu, perlu diingat pula bahwa kamu memiliki fleksibilitas dalam menentukan gaya komunikasi. Kamu bisa saja bersikap lebih ramah dan hangat saat berinteraksi dengan AI dalam percakapan yang panjang dan melibatkan banyak tanya jawab.

Namun, jika hanya membutuhkan jawaban cepat agar bisa segera melanjutkan pekerjaan, kamu bisa memilih gaya komunikasi yang lebih singkat dan lugas.

Dengan kata lain, ini sebenarnya sama seperti saat berkomunikasi dengan manusia. Sesuaikan cara berbicaramu dengan konteks situasi yang dihadapi.

Banner Loker

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button